Oh Tuhan..
![]() |
| Sumber gambar : theoriginalwinger.com |
“Tak satu pun dari kita mengenal tuhan, sampai seseorang memperkenalkan ke kita.”
Kalimat
diatas adalah sebuah kutipan dari film Life of Pi garapan
Ang Lee. Film ini berhasil memperoleh empat gelar piala Oscar pada Academy Awards ke-85,
yang digelar di Dolby Theatre, California, Amerika Serikat.
Bercerita tentang
kehidupan manusia asal India, Piscine Molitor Patel. Nama bocah yang cukup
aneh, yang menyebabkannya sering diolok-olok oleh teman sebayanya. Namanya
diplesetkan menjadi Pissing Patel yang artinya pipis. Layaknya bocah seumuran,
ia malu sekaligus marah. Ia pun mencoba membalikkan semua ejekan tersebut, dari
yang hina menjadi berharga, dari pipis menjadi variabel penting, “PI”. Abjad
keenam belas dari alphabet yunani.
Ia tampak gigih
berusaha, setiap mengawali pelajaran ia maju kedepan kelas. Bergaya bak seorang
guru meyakinkan, mengolah skenario tentang namanya, menjelaskan panjang lebar
mengenai kegunaan symbol “PI”. Dan akhirnya, ia pun sukses mengubah namanya
dari pipis menjadi PI.
Ayah Pi,
Santosh Patel adalah seorang ateis. Penyebabnya karena sewaktu kecil ia pernah
terkena penyakit polio. Ia mempertanyakan keberadaan Tuhan, yang tega
membiarkannya terbaring di tempat tidur dengan rasa sakit. Malah pengobatan
dari baratlah yang datang menghampirinya, menyembuhkanya dari penyakit polio.
Sejak saat itu dia tak lagi percaya akan Tuhan.
Berbeda
dengan ayahnya yang seorang ateis, ibu Pi penganut hindu yang taat, dan
juga perempuan vegetarian. Ibunya adalah ahli botani yang hebat. Pi juga memiliki kakak berusia dua
tahun lebih tua darinya, namanya Ravi. Ketika Pi berusia 5 tahun, ia
diperkenalkan oleh ibunya dengan agama Hindu. Agama yang memiliki kurang lebih
33 juta dewa didalamnya. Dewa Krishna adalah dewa yang pertama kali dikenal Pi.
Dikisahkan ketika Krishna dituduh ibunya telah memakan kotoran, tetapi Krishna tidak mengakui hal tersebut. Untuk membuktikan tuduhannya itu, ibunya menyuruh Krishna membuka mulut, namun tak disangka-sangka dari mulut Krishna tersebut terlihatlah seluruh jagat raya dan isinya. Pi pun terpesona dengan cerita-cerita dewanya. Ia mengikuti jejak sang ibu dengan menjadi penganut Hindu yang taat, dan seorang vegetarian.
Agama dianggap sebagai sesuatu yang sangat personal, karena menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Setiap individu pun berhak untuk memeluk agamanya masing-masing, sesuai dengan kepercayaannya. Seperti yang tercantum dalam piagam Hak Asasi Manusia sedunia pasal 18 ayat 1 yang menyatakan “setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan gagasan, pemikiran dan memeluk agama dengan bebas, hak ini termasuk kebebasan untuk merubah agama atau kepercayaan, baik sendiri-sendiri maupun bersama komunitas dalam ruang publik maupun privat untuk mewujudkan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan mengajar, peribadahan dan perwujudan ketaatan lainnya.”
Kebebasan beragama tersebut teraplikasi dengan jelas dalam film ini. Tergambar ketika Pi mulai mengenal Kristen dan Islam. Keluarganya tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut, mereka tetap menghargai pilihan antara satu sama lain. Pi mengenal Kristen ketika berumur 12 tahun. Ia mendapatkan pencerahan tentang kasih tuhan melalui seorang pastur. Memperoleh penjelasan tentang fenomena aneh yang terjadi dengan Yesus. Serta menemui jawaban atas beberapa pertanyaan tentang Tuhan. Lantas, Pi menjadikan agama Kristen sebagai agamanya yang kedua.
Tidak berselang begitu lama dengan pengenalannya terhadap Kristen, dia menemukan Islam. Pi merasa menemukan perasaan tenang dan persaudaraan di dalam Islam. Melalui shalat, ia menghargai tanah sebagai sesuatu yang suci. Islam kemudian dipilihnya menjadi agama ketiganya. Ia pun memiliki tiga agama sekaligus di usia remajanya. Hindu, Kristen, dan Islam.
Usia remaja memang usia yang potensial untuk melakukan proses pencarian jati diri. Proses menemukan agama. Agama dikatakan dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia. Tidak jarang, pada usia remaja seseorang akan melakukan konversi ke agama lain. Cristenses menyebutkan dari 15.471 orang yang melakukan konversi agama rata-rata berusia 15 tahun. Hal itu pun yang mirip terjadi dengan Pi. Di usianya yang remaja, ia mencari jati diri dengan percobaan mengkombinasikan beberapa agama.
Menemukan Tuhan (agama) tidaklah semudah seperti menemukan sepotong baju di lemari. Membutuh proses panjang untuk mendapatkannya. Walaupun Pi telah memiliki agama dengan jumlah lebih dari cukup, tetapi ia tetap harus belajar dengan ketetapan Tuhan. Diawali dengan perjalanan panjangnya menggunakan kapal asal Jepang, Tsimtsum namanya. Ayah Pi berencana untuk menjual sebagian binatangnya di Amerika Utara, dan akan memulai hidup baru di Kanada.
Namun ditengah perjalanan, badai besar di tengah samudera mengagalkan semua rencana tersebut. Kapal porak poranda. Air masuk kedalam tubuh kapal, dan akhirnya kapal tenggelam. Pi menjadi satu-satunya manusia yang berhasil selamat dari musibah tersebut. Dengan berhasil menaiki sekoci yang dilempar dari kapal. Ia masih punya kawan, namun bukan manusia, beberapa binatang milik ayahnya; zebra, hyena, orang utan, dan harimau. Mereka berhasil selamat setelah keluar dan reflex ikut masuk ke sekoci.
Hidup dalam satu tempat dengan hewan bukanlah perkara yang mudah. Di hari pertama, Hyena sudah mengalami mabuk laut. Ia bergerak tak beraturan dengan seenaknya sendiri. Memberikan perasaan was-was terhadap penghuni sekoci lainnya. Ketika senja, hyena kembali berulah. Ia mengigit kaki zebra yang sedang cedera karena melompat dari kapal. Tak berapa lama setelah itu zebra pun mati.
Dalam film tersebut masih banyak kisah tentang kehidupan PI bersama kawan binatangnya. Banyak hal yang terjadi, mulai dari hewan yang saling membunuh, usaha Pi menangkap ikan, terdampar di pulai meerkat, dan lain sebagainya.
Di akhir cerita, akhirnya Pi berhasil menuju tepi pantai, beberapa orang membantu membawanya ke rumah sakit Meksiko. Beberapa hari kemudian, Pi ditemui oleh dua orang perwakilan dari perusahaan Kapal Jepang. Mereka ingin mengetahui penyebab tenggelamnya kapal untuk mendapatkan klaim asuransi perawatannya. Pi bercerita dengan kisah yang ia alami. Kisah yang benar-benar nyata. Terdapat perjalanannya, meerkat, pembunuhan, dan lain sebagainya. Namun, dua orang tersebut tidak percaya sama sekali. Mereka menganggap cerita Pi adalah cerita yang irasional. Tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Mereka menginginkan cerita yang rasional, yang dapat dipertanggungjawabkan ke perusahaan, dan tidak membuat mereka terlihat bodoh. Akhirnya Pi bercerita dengan kisah yang berbeda.
Setelah mendengar cerita yang berbeda, petugas itu pun tidak bertanya lagi dan meminta izin untuk pamit. Dua kisah yang telah diceritakan Pi, tak satupun menjelaskan apa yang menyebabkan tenggelamnya kapal. Dan tak ada yang dapat membuktikan cerita mana yang benar atau tidak. Terkadang, sebagai manusia yang terlalu mengandalkan logika, kita terlalu mudah untuk tidak percaya dengan cerita yang irasional. Terkadang manusia terlalu mudah percaya dengan cerita yang rasional meski belum jelas kebenarannya. Padahal yang tidak irasional itulah kejadian sesungguhnya. “Dan begitulah yang terjadi dengan Tuhan”.
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di buletin Patriotik. Namun untuk postingan kali ini, rerdapat beberapa perubahan sehingga agak berbeda dengan yang dimuat di buletin.
Dikisahkan ketika Krishna dituduh ibunya telah memakan kotoran, tetapi Krishna tidak mengakui hal tersebut. Untuk membuktikan tuduhannya itu, ibunya menyuruh Krishna membuka mulut, namun tak disangka-sangka dari mulut Krishna tersebut terlihatlah seluruh jagat raya dan isinya. Pi pun terpesona dengan cerita-cerita dewanya. Ia mengikuti jejak sang ibu dengan menjadi penganut Hindu yang taat, dan seorang vegetarian.
Agama dianggap sebagai sesuatu yang sangat personal, karena menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Setiap individu pun berhak untuk memeluk agamanya masing-masing, sesuai dengan kepercayaannya. Seperti yang tercantum dalam piagam Hak Asasi Manusia sedunia pasal 18 ayat 1 yang menyatakan “setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan gagasan, pemikiran dan memeluk agama dengan bebas, hak ini termasuk kebebasan untuk merubah agama atau kepercayaan, baik sendiri-sendiri maupun bersama komunitas dalam ruang publik maupun privat untuk mewujudkan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan mengajar, peribadahan dan perwujudan ketaatan lainnya.”
Kebebasan beragama tersebut teraplikasi dengan jelas dalam film ini. Tergambar ketika Pi mulai mengenal Kristen dan Islam. Keluarganya tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut, mereka tetap menghargai pilihan antara satu sama lain. Pi mengenal Kristen ketika berumur 12 tahun. Ia mendapatkan pencerahan tentang kasih tuhan melalui seorang pastur. Memperoleh penjelasan tentang fenomena aneh yang terjadi dengan Yesus. Serta menemui jawaban atas beberapa pertanyaan tentang Tuhan. Lantas, Pi menjadikan agama Kristen sebagai agamanya yang kedua.
Tidak berselang begitu lama dengan pengenalannya terhadap Kristen, dia menemukan Islam. Pi merasa menemukan perasaan tenang dan persaudaraan di dalam Islam. Melalui shalat, ia menghargai tanah sebagai sesuatu yang suci. Islam kemudian dipilihnya menjadi agama ketiganya. Ia pun memiliki tiga agama sekaligus di usia remajanya. Hindu, Kristen, dan Islam.
Usia remaja memang usia yang potensial untuk melakukan proses pencarian jati diri. Proses menemukan agama. Agama dikatakan dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia. Tidak jarang, pada usia remaja seseorang akan melakukan konversi ke agama lain. Cristenses menyebutkan dari 15.471 orang yang melakukan konversi agama rata-rata berusia 15 tahun. Hal itu pun yang mirip terjadi dengan Pi. Di usianya yang remaja, ia mencari jati diri dengan percobaan mengkombinasikan beberapa agama.
Menemukan Tuhan (agama) tidaklah semudah seperti menemukan sepotong baju di lemari. Membutuh proses panjang untuk mendapatkannya. Walaupun Pi telah memiliki agama dengan jumlah lebih dari cukup, tetapi ia tetap harus belajar dengan ketetapan Tuhan. Diawali dengan perjalanan panjangnya menggunakan kapal asal Jepang, Tsimtsum namanya. Ayah Pi berencana untuk menjual sebagian binatangnya di Amerika Utara, dan akan memulai hidup baru di Kanada.
Namun ditengah perjalanan, badai besar di tengah samudera mengagalkan semua rencana tersebut. Kapal porak poranda. Air masuk kedalam tubuh kapal, dan akhirnya kapal tenggelam. Pi menjadi satu-satunya manusia yang berhasil selamat dari musibah tersebut. Dengan berhasil menaiki sekoci yang dilempar dari kapal. Ia masih punya kawan, namun bukan manusia, beberapa binatang milik ayahnya; zebra, hyena, orang utan, dan harimau. Mereka berhasil selamat setelah keluar dan reflex ikut masuk ke sekoci.
Hidup dalam satu tempat dengan hewan bukanlah perkara yang mudah. Di hari pertama, Hyena sudah mengalami mabuk laut. Ia bergerak tak beraturan dengan seenaknya sendiri. Memberikan perasaan was-was terhadap penghuni sekoci lainnya. Ketika senja, hyena kembali berulah. Ia mengigit kaki zebra yang sedang cedera karena melompat dari kapal. Tak berapa lama setelah itu zebra pun mati.
Dalam film tersebut masih banyak kisah tentang kehidupan PI bersama kawan binatangnya. Banyak hal yang terjadi, mulai dari hewan yang saling membunuh, usaha Pi menangkap ikan, terdampar di pulai meerkat, dan lain sebagainya.
Di akhir cerita, akhirnya Pi berhasil menuju tepi pantai, beberapa orang membantu membawanya ke rumah sakit Meksiko. Beberapa hari kemudian, Pi ditemui oleh dua orang perwakilan dari perusahaan Kapal Jepang. Mereka ingin mengetahui penyebab tenggelamnya kapal untuk mendapatkan klaim asuransi perawatannya. Pi bercerita dengan kisah yang ia alami. Kisah yang benar-benar nyata. Terdapat perjalanannya, meerkat, pembunuhan, dan lain sebagainya. Namun, dua orang tersebut tidak percaya sama sekali. Mereka menganggap cerita Pi adalah cerita yang irasional. Tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Mereka menginginkan cerita yang rasional, yang dapat dipertanggungjawabkan ke perusahaan, dan tidak membuat mereka terlihat bodoh. Akhirnya Pi bercerita dengan kisah yang berbeda.
Setelah mendengar cerita yang berbeda, petugas itu pun tidak bertanya lagi dan meminta izin untuk pamit. Dua kisah yang telah diceritakan Pi, tak satupun menjelaskan apa yang menyebabkan tenggelamnya kapal. Dan tak ada yang dapat membuktikan cerita mana yang benar atau tidak. Terkadang, sebagai manusia yang terlalu mengandalkan logika, kita terlalu mudah untuk tidak percaya dengan cerita yang irasional. Terkadang manusia terlalu mudah percaya dengan cerita yang rasional meski belum jelas kebenarannya. Padahal yang tidak irasional itulah kejadian sesungguhnya. “Dan begitulah yang terjadi dengan Tuhan”.
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di buletin Patriotik. Namun untuk postingan kali ini, rerdapat beberapa perubahan sehingga agak berbeda dengan yang dimuat di buletin.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

wihhh..... kalah satu langkah saya rek..
BalasHapuswong ya baru satu langkah, jalan didepan masih panjang pak.. ;)
Hapus