Rindu
Kala itu
saya bersama seorang teman di depan rumah. Sedang jenuh, merasa begitu
membosankannya tekanan itu. Kami berdua diam, sama-sama mengkhayalkan suatu hal.
Tapi saya tak tahu apa yang ada di alam pikirannya. Begitupun ia tak tahu apa
yang ada dalam khayalan saya. Suasana masih lengang, Saya pun bertanya, Rindu itu ba ha sa jawanya gempa ya?
Dia menoleh, tapi tetap diam. Bukan segera menjawab tangannya
malah memukul kepala saya, sambil ngomel "itu Linduuu,
ndul". Ia tiba-tiba
jadi histeris, lalu mengusap-usap
dadanya sendiri, matanya berkedip-kedip lebih cepat, wajah
memelasnya sejenak hilang. Saya tertawa. Kenapa dia tiba2 agresif seperti itu? ;)
Tak lama
berselang dia ikutan tertawa. Lebih keras malah daripada saya. Beberapa saat
kita pun tertawa berirama. Melupakan tumpukan tugas yang sedari tadi selalu minta
diperhatikan. atau sekedar mengabaikan bintang2 yang terus menatap kita dari
kejauhan. Malam itu seperempat indah kawan, yang dirindu masih jauh disana, yang
tidak dirindu setia mendekati disini.
Ngomong2,
apa kalian pernah merindukan sesuatu? Atau ingin melupakan sesuatu? Melupakan tugas
misalnya? ;)
Alkisah, pada
tahun 1938. Ada sebuah kisah tentang perjalanan rindu dan melupakan. Dua hal yang
umum hampir semua orang pernah mengalaminya, tak peduli siapa pun dia. Mulai
dari laki2 bujang, pedagang kaya raya, suami istri bahagia, pelacur, hingga
ulama ternama sekalipun.
Laki2
bujang itu, tampaknya hampir sama dengan kita. Karena usianya yang hanya
terpaut beberapa tahun saja, Kala itu umurnya 24 tahun. Ia telah akrab berkawan
dengan laut hampir 25 tahun lamanya. Bapak dan ibunya meninggal dunia saat
usianya masih Sembilan tahun. Ia hidup sebatang kara. Hidup mandiri, bekerja apapun
yang bisa dia kerjakan di laut. mulai dari mengepel dek kapal, menyikat
dinding, kuli angkut, membersihkan kakus, hingga menjadi kelasi dapur.
Terlihat, hidup
anak muda ini lumayan rumit kawan, cobaan hilir mudik berganti. Ia pernah
dijemur berhari-hari di tiang kapal karena tak sengaja melakukan kesalahan. Ia
pun pernah berkelahi dengan empat perompak ketika kapalnya dibajak. Ia pula
pernah mencicipi dahsyatnya badai, yang lantas membuat dirinya terdampar enam
hari di pulau kecil yang tak berpenghuni. Namun jiwa pelaut sejati telah
tertanam didadanya, Dia kuat dan pandai, dia sanggup menghadapi semua rintangan
tersebut. Hari-hari pun terus berjalan, hingga Ia mendapat posisi terhormat
menjadi nahkoda kapal pinishi. Bahagianya.
Tapi apa
kalian pernah bertanya? Bahagia itu berapa jam sih masa aktifnya? Menjadi
nahkoda kapal bukan berarti langsung menjamin hari-hari pemuda itu akan bahagia
selamanya. Ia jatuh cinta kawan, pada anak yang sempat ia selamatkan kala bertarung
dengan badai. Kisah cintanya sudah bisa ditebak, tak sehalus jalan tol. Ia
ditolak oleh orangtua si perempuan tersebut, hanya karena perbedaan kelas
sosial, “Keluarga mereka bangsawan, sedangkan aku orang biasa.” Ungkapnya
dengan sedih.
Perempuan yang
ia cintai akan dijodohkan dengan calon yang lebih baik dibandingkan dirinya.
Laki-laki ini patah hati. Setengah hatinya longsor kemana-mana, bibit2
kesabaran tak lagi mampu menopangnya. Dia pun memutuskan untuk pergi
selama-lamanya dari kota perempuan tersebut. Menanggalkan semua cerita cintanya,
semuanya sudah berakhir,
Ia
meninggalkan jabatan nahkoda yang diimpikan banyak orang. Anak bujang ini
memilih melamar pekerjaan apa saja di kapal Blitar Holland, kapal mesin uap
yang membawa penumpang pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Sempat
ditolak karena tidak mempunyai keahlian di kapal mesin uap, ia akhirnya
diterima oleh sang kapten karena wajahnya yang kusut beserta tekadnya yang
aneh.
Di kapal
inilah, pemuda bujang ini mencoba melongsorkan semua hatinya, kepalang tanggung
semisal hanya longsor separuh. Berhari-hari ia menatap lautan dari jendela
kabinnya, seakan masih sungguh tak tega meninggalkan itu semua. Disaat itulah,
ia benar-benar merasa rindu, namun harus segera melupakan. Dan pula, sangat ingin
melupakan, tapi tetaplah masih ada rindu. Hingga rindu dan melupakan jaraknya
setipis benang saja.
Sekilas,
kisah ini hampir tak ada bedanya dengan kisah2 percintaan lainnya kawan,
seperti romeo Juliet, laila majnun, atau Roro Mendut Pronocitro. Semuanya sedih dan
memilukan, hanya berbeda masa atau settingnya saja. Namun jangan dikira, ini
bukan hanya soal cinta. Ini lebih dari itu semua, coba saja dirasakan. J
Selain anak
bujang itu, di tahun yang sama terdapat pula pedagang kaya raya. Ia memiliki
masalah yang mirip dengan pemuda tersebut. Namun nasibnya cukuplah berbeda, Pedagang
kaya raya ini punya harta yang banyak, terpandang, dihormati masyarakat,
memiliki istri yang cantik, dan dua putri yang menggemaskan. Tampak bahagia
sekali bukan? Tapi sebentar, apa memang pedagang ini benar2 bahagia?
Tampaknya
tidak kawan, seperti yang saya utarakan tadi. Pedagang ini mirip dengan pemuda
bujang. Walau dari luar terlihat begitu indah nan bahagia, didalamnya tidaklah
seperti itu. Dia punya masalah dengan masa lalunya, dimana ia harus melupakan
orang yang seharusnya dikasihi dirinya sendiri. Ia ingin benar-benar melupakan
ayahnya! Wah, kenapa?
Ia sangat
membenci ayahnya sendiri. Orang tua yang telah membesarkan dirinya. Tak terbilang
seberapa lama dia harus menahan perasaan itu, berakting baik dengan orang
tuanya dihadapan banyak orang, padahal ia teramat benci padanya. Berpura-pura
bahagia dengan keluarga besarnya, dengan ayahnya, padahal tak ada rasa bahagia
sedikit pun di keluarga mereka. Hingga akhirnya dia bisa menemukan saat yang
pas untuk segera pergi dari rumah. Dia bekerja keras, mencari uang untuk
sekolahnya sendiri. Dengan jerih payahnya, dia berhasil sukses dan menjadi pedagang
yang terpandang.
Namun sekali lagi, menjadi
orang terpandang pun bukan jaminan untuk bisa bahagia. Ia masih menyimpan dendam
yang sangat pada ayahnya. Pun ketika ayahnya telah meninggal dunia. Hatinya
masih sakit ketika nama orang tuanya disebutkan. Ia sungguh2 ingin melupakan
orang tersebut. Padahal, bukankah seharusnya orangtua adalah manusia utama yang
harusnya selalu kita rindukan?
Hidup ini
memang begitu rumit kawan, jika tidak didasari dengan pemahaman yang baik dan
benar. Di tahun yang sama, ada pula permasalahan tentang suami istri yang
begitu mencintai, namun harus berpisah atas nama takdir. Ada juga masalah
seorang perempuan yang masa lalunya menyakitkan, dipaksa untuk menjadi pelacur.
Pun ada pula, pergolakan batin seorang ulama yang berani menulis, namun gentar
untuk berbuat.
Bahagia,
semua orang ingin merasakannya. Tak peduli dengan apa ia berjuang. Tak peduli
dari kalangan apa ia berpandangan. Semuanya pun pasti ingin bahagia. Rentetan
perjalanan kisah di novel ini mengajarkan kepada kita, bagaimana hakikat
kebahagian sejati yang sebenarnya.
Dalam novel
setebal 544 halaman inilah, Tere Liye menceritakan berbagai macam permasalahan.
Mengenai anak bujang, pedagang kaya raya, suami istri bahagia, pelacur, hingga
ulama ternama. Kisah-kisah tersebut dibungkus dengan pertanyaan hidup yang
mereka jalani. Dengan mengambil kata Rindu sebagai judul buku. Kisah ini
berlatar pada sebuah kapal yang hendak menuju Makkah, pada masa Indonesia masih
dijajah oleh Belanda.
Novel ini
bersangkutan dengan banyak hal kawan, mulai dari agama, sejarah, sosial, dan
juga cinta. Tak ada runginya jika ingin menambah wawasan dengan membaca novel
ini. Ada banyak pesan-pesan lama yang terkadang kita sendiri lupa. Ada banyak
nasihat-nasihat sederhana yang terkadang kita ogah untuk menerimanya. Terkadang,
kita terlalu merasa pintar dengan pengetahuan baru yang dicekokkan pada jiwa
ini, hingga kita sendiri melupakan apa yang sudah kita pelajari jauh-jauh
kemarin hari.
Tapi tunggu
sebentar, Saya pun lupa sekarang, ternyata saya sudah sendirian di depan rumah.
Entah sejak kapan saya ditinggal masuk oleh kawan saya yang histertis tadi.
Akhir kata, cepetan beli novelnya, dan selamat membaca kawan. :D
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar